Senin, 14 September 2009

Materi PLH kelas IX


BAB II
Menilai Tanda-tanda Bencana Alam

Bencana dalam bentuk apapun bisa terjadi dengan tiba-tiba. oleh sebab itu kita perlu mempersiapkan diri sebelumnya. Masalah bencana juga merupakan tanggung jawab bersama antara masyarakat, pemerintah dan lembaga lainnya, oleh karena itu seluruh proses persiapan dan penanganan hingga pemulihannya juga harus dilakukan bersama. Namun yang terpenting adalah kesiapan masyarakat, karena pihak pertama yang akan menghadapi atau terkena dampak bencana adalah masyarakat itu sendiri. Bab ini akan menjelaskan mengenai peran yang dapat kita lakukan untuk mengantisipasi terjadinya bencana alam, sehingga diharapkan dapat mencegah atau meminimalisir korban jiwa dan kerusakan yang terjadi.

A. TANDA-TANDA BENCANA ALAM
Tanda-tanda bencana alam, seperti tanah longsor, sebenarnya bisa dikenali sebelum terjadi. Biasanya di sekitar lokasi muncul mata air yang sebelumnya tidak pernah ada. jika musim hujan biasanya air tergenang, menjelang bencana itu airnya langsung hilang, terjadi retakan tanah dan berjatuhannya kerikil di lereng bukit.
Meskipun tanda-tanda tersebut sudah terlihat, sulit diprediksi berapa lama tenggat waktu antara kemunculan tanda-tanda tersebut dengan terjadinya bencana. Mungkin tanda itu muncul tapi tidak terjadi bencana, tapi bisa pula musibah itu datang seminggu kemudian. Warga yang tinggal di lereng bukit atau di bawah perbukitan jika melihat gejala alam seperti itu harus meningkatkan kewaspadaan, terutama kalau hujan terus mengguyur.
Bagaimana cara mengenali tanda-tanda itu?
1. Di Pantai
Keindahan pantai selalu dapat mempesona manusia yang melihatnya, walau demikian, kita harus waspada terhadap gejala alam yang terjadi di pantai. Korban tsunami di Meulaboh dan pantai Lhok Nga Aceh terbanyak diduga karena mereka turun ke tepi laut pada saat permukaan laut surut mendaak untuk mengambil ikan-ikan yang terdampar di tepi pantai. Hal yang harus dilakukan jika permukaan air surut mendadak adalah berlari secepatnya ke arah dataran tinggi. Hembusan angin yang sangat kencang dan mendadak, disertai bau garam/air laut yang tajam menandakan sedang terjadinya proses di tengah laut. Hal ini dapat berlanjut dengan terjadinya tsunami.
Terjadinya gempa di tengah laut juga pertanda munculnya tsunami. Untuk perahu yang sedang berada di tengah laut, jika hal ini terjadi maka akan lebih aman jika tetap berada di tengan laut, jangan dekatkan perahu ke daratan. Sebab efek tsunami di permukaan laut yang jauh dari pantai hanya sekitar 0,3 - 1 meter saja. Berbeda dengan tsunami yang telah sampai ke daratan, tingginya bisa mencapai hingga 10 meter.
2. Di daerah aliran sungai
Jika sedang berada di tepi sungai yang sangat jernih, dan melihat bawah pasir di dasar sungai bergerak sangat cepat ke arah hilir, maka menjauhlah segera dari tepi sungai dan carilah tempat yang tinggi. Gerakan pasir yang sangat cepat menandakan bahwa sedang terjadi air bah di hulu sungai.
3. Tingkah laku hewan
Pada saat menjelang datangnya Banjir Bandang Bohorok di Langkat, Sumatera Utara (2003), orang utan menunjukan tingkah laku yang ekstrim. Mereka sangat gelisah dan berteriak-teriak. Saat terjadi gempa di Sumatera, gajah-gajah di Phuket (Thailand) gelisah dan menjerit-jerit. Menjelang datangnya tsunami, mereka melepaskan sendiri belenggu yang mengikat mereka dan menggiring turis dan pawang ke tempat yang aman, Ombak tsunami berhenti hanya beberapa meter dari tempat gajah-gajah itu berdiri. Burung beterbangan. Seorang perwira TNI-AD Kodam I-Iskandar Muda beserta staffnya berhasil selamat dari tsunami di Banda Aceh karena melihat burung berwarna putih sangat banyak terbang dari ke daratan dari laut. Ia memerintahkan staffnya untuk memutar arah kembali, padahal saat itu ia sedang menuju pelabuhan.
Peristiwa-peristiwa di atas menunjukan betapa pekanya hewan-hewan terhadap bahaya. Dengan naluri, mereka dapat merasakan bahaya sedang mendekat. Karena itu, apabila melihat ular, tikus atau kecoa keluar secara tiba-tiba dari dalam got dalam jumlah yang sangat banyak, maka segeralah waspada. Sedang terjadi sesuatu di bawah tanah. Jika berada di sekitar pegunungan dan melihat semua hewan berlari ke arah kaki gunung, maka segeralah ikuti meraka. Jangan takut mereka akan memakan, menerkam atau menggigit, karena naluri mereka pada saat itu hanya satu, yaitu menyelamatkan diri. Berlariannya hewan-hewan ke arah kaki gunung menandakan bahwa gunung tersebut akan segera meletus.
Dengan mengamati tanda-tanda bencana alam yang akan muncul, kita dapat mengantisipasi datanyna bencana tersebut. Untuk mencegah jatuhnya korban dan kerugian yang lebih besar, terutama bencana yang terkait dengan perilaku manusia, misalnya banir, sangat perlu bagi masyarakat untuk mengetahui tanda-tanda bencana alam tersebut.
Sosialisasi tanda-tanda bencana alam dapat dilakukan dengan banyak cara, diantaranya :
1. Penyebaran layanan masyarakat
Dengan cara menyebar pamflet atau poster mengenai bencana alam.
2. Pemukulan kentongan
Tindakan ini dapat diterapkan pada daerah dengan jumlah penduduk tidak terlalu banyak. Letakkan kentongan di poskamling atau di rumah penduduk yang letaknya strategis, agar suara kentongan dapat terdengan seluruh warga. Begitu melihat munculnya tanda-tanda bencana alam, segera bunyikan kentongan sekeras-kerasnya sampai semua warga terkumpul, segeralah berkoordinasi dengan kepala desa maupun tokoh masyarakat mengenai langkah yang harus diambil selanjutnya, dan segeralah hubungi lembaga pemerintah terkait yang bertugas dalam penanggulangan bencana alam.
3. Bunyi Sirine
Sirine digunakan untuk mensosialisasikan tanda-tanda bencana alam pada wilayah dengan jumlah penduduk yang lebih banyak, karena jangkauan bunyinya lebih luas daripada kentongan.

B. IKUT BERPARTISIPASI DALAM PENANGGULANGAN BENCANA ALAM
Penanggulangan bencana alam adalah tanggung jawab semua pihak, termasuk didalamnya pemerintah dan masyarakat. Adapun pihak-pihak yang terkait dari lembaga pemerintah dalam penanggulangan dan manajemen bencana adalah :
1. SATLAK PBP (Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana dan Pengungsi), merupakan lembaga yang khusus bertugas untuk penanggulangan bencana ditingkat Kabupaten atau Kota. Hal-hal yang dilakukan oleh SATLAK PBP antara lain memberikan bantuan yang mencakup kegiatan pencegahan, rehabilitasi dan rekontruksi pada tingkat Kabupaten.
2. SATKORLAK PBP (Satuan Koordinasi Pelaksanaan Penanggulangan Bencana dan Pengungsi), merupakan lembaga yangt khusus bertugas untuk penanggulangan bencana di tingkat Propinsi. Hal-hal yang dilakukan oleh SATKORLAK PBP adalah memberikan bantuan yang mencakup kegiatan pencegahan, rehabilitasi dan rekontruksi pada tingkat Propinsi.
3. SAR (Search and Rescue), merupakan lembaga yang khusus melakukan pencarian, pertolongan dan penyelamatan terhadap orang ataupun maaterial yang menglaami musibah atau diperkirakan hilang dalam suatu penerbangan, pelayaran, atau bencana alam.
4. PMI (Palang Merah Indonesia), merupakan lembaga yang bertugas menghimpun dana dan daya dari masyarakat, untuk diteruskan kepada masyrakat yang tertimpa bencana, seperti : menolong dan mengevakuasi korban bencana alam, membangun tempat pengungsian.
5. BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika), merupakan badan yang khusus menyelenggarakan kegiatan-kegiatan dibidang meterologi dan geofisika. Badan ini memberi informasi tentang pertumbuhan badai tropis, gejala EL NINO, serta gejala LA NINA dan juga gempa.
6. LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), merupakan lembaga yang membantu masyarakat korban becana dengan pengadaan SDM, pendanaan, pembentukan kerjasama dan dukungan tekhnis pada saat kritis.
7. Media cetak maupun elektronik (TV dan Radio), merupakan sarana untuk menyebarkan informasi mengenai bencana dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan bencana, membantu mengumpulkan bantuan serta sumbangan dari masyrakat luar.
8. Kepala Desa, berperan mengorganisir masyarakat dalam hal mempersiapkan, menanggulangi, dan pemulihan setelah terjadi bencana.
9. Masyarakat setempat/KPB (Komite Pemulihan Bencana), merupakan organisasi masyarakat yang mengatur pembagian tugas dalam menanggulangi bencana serta berkoordinasi dengan instalasi dan lembaga bantuan dari luar.
Sebagai generasi muda penerus bangsa, harus kita tanamkan jiwa solidaritas dalam diri kita. Melihat saudara-saudara kita sedang tertimpa musibah, tentunya tidak boleh berdiam diri. kita harus berusaha semampu kita. dengan cara :
Langkah pertama yang paling mudh dan praktis untuk dilakukan tentu saja dengan menyumbangkan sedikit harta yang kita miliki untuk meringankan beban mereka yang tertimpa musibah. Sumbangan tersebut bisa berupa uang, pakaian, selimut, kasur lipat, obat-obatan, bahan pangan, dll. Kita dapat menitipkan sumbangan tersebut kepada lembaga pemerintah maupun LSM untuk kemudian disalurkan pada korban-korban bencana alam, ataupun langsung kita berikan jika lokasi bencana tidak jauh dari tempat tinggal kita, sehingga kita juga dapat langsung terjun ke lokasi bencana dan membantu masyarakat untuk mengevakuasi korban, memberi pertongan pertama pada korban yang terluka dan mengamankan harta benda yang masih bisa diselamatkan. dan tentu saja sebelumnya kita harus dibekali keahlian fisik dan mental yang kuat.
Untuk dapat membantu di lokasi bencana, setidaknya kita harus memiliki pengetahuan megenai P3K (Pertolongan Pertama pada Kecelakaan). Keahlian ini dapat kita pelajari melalui ekstrakulikuler di Sekolah, antara lain PMR (Palang Merah Remaja) dan Pramuka. PMR merupakan suatu ekstrakulikuler yang menitik beratkan pada pelatihan dalam bidang kesehatan, seperti tata cara membuat tandu darurat, mengobati dan membalut luka, dsb. Sedangkan Pramuka lebih menitikberatkan pada pembinaan mental dan fisik anggotanya, serta pengetahuan dalam kondisi situasi darurat, seperti pelatihan sandi morse, cara mendirikan tenda, dsb. Jika kita memiliki keahlian dan kesiapan yang dibutuhkan, maka kita akan dapat menyumbangkan tenaga dan kemampuan kita tersebut agar dpat sedikit meringankan beban para korban bencana, kita pun dapat menjaga diri kita sendiri saat terjun langsung ke lokasi bencana tanpa merepotkan orang lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar